Selasa, 17 Januari 2012

Taqiyyuddin As Subki : dan Takmilah Al Majmu'



Kitab Al Majmu' Syarah Kitab Al Muhadzdzab adalah Karya Imam An Nawawi, beliau belum selesai mensyarahi kitab Al Muhadzdzab namun beliau wafat terlebih dahulu lalu kemudian muncul Ulama dalam Mazdhab Syafi'i yaitu Taqiyuddin As-Subki, atau yang lebih dikenal dengan Imam As-Subki  adalah ulama yang menjadi rujukan umat islam pada jamannya. Karena ketinggian ilmu dan mulia ahlaknya ia mendapat gelar  Syaikh al-Islam. Takmilah Syarah Muhadzab, yaitu untuk mencukupkan yang kurang dalam Syarah Muhadzab Karangan Imam Nawawi. Al Majmu' Syarah Al muhadzab itu adalah karangan Taqituddin Subki dari kitab Ar Rohn (Jilid 10) sampai tamat) (jilid terakhir dari kitab Al majmu' ini yang pada pengarang hanya sampai jilid 12, furu' Nakhtimu bihi Biaunillah Wataisirihi). (Sejarah dan Keagungan Madzhab Syafi'i; KH. Sirojuddin 'Abbas) 
Para ulama semasanya, seperti Al Baji, Ibnu Rif’ah, dan Dimyathi menjulukinya dengan imam muhaditsin, imam fuqaha, dan imam ushuliyin. Gelar  Syaikh al-Islam diberikan oleh  Tajuddin as-Subki dan Hafidz al-Mizzi.
Beberapa karya As-Subki yang kini menjadi kitab referensi antara lain, Tafsir Durar an-NadzimAl Ibhaj Syarh Minhaj, dan kitab Takmilah al-Majmu, sambungan dari kitab Al-Majmu syarah Muhadzab  oleh Imam Nawawi. Al Hamdulillah Allah memberikan kemurahan sehingga saya bisa memilikinya yang berjumlah 27 jilid. Namun kitab Takmilah Al majmu' ini Juga tidak hanya di sempurnakan oleh As Subki Namun juga oleh Al Marani.. 


Selain itu juga kitab As-saiful As-saqil Fi Raddi A’la Ibnu Zafil yang isinya mengkritik kitab Qasidah Nuniah karangan Ibnul Qayyim Al-Jauzi yang dinilainya mendukung pemikiran Ibnu Taimiyah yang menyalahi keyakinan salafus shaleh dalam masalah tajsim. Dalam kitab tersebut imam as-Subki menulis, "Makna kedua dari kalimat istiwa` pada bahasa adalah duduk dan bersilah. Jika maknanya dipahami dari sifat jisim (dari tubuh manusia ), tidak dapat diterima oleh akal tersebut bagi Allah.  Maha suci Allah dari sifat tersebut. Barang siapa yang mengungkapkan kepada Allah dengan kalimat duduk, dengan alasan tidak bermaksud menyamakan dengan sifat manusia, maka sesungguhnya dia telah mengatakan sesuatu yang tidak pernah diungkapkan oleh bahasa. Pendapat seperti itu adalah pendapat yang batil, dan dia sebenarnya telah mengakui Allah SWT bersifat seperti manusia."
Selain itu as-Subki juga mengkritik langsung Ibnu Taimiyah dalam kitabnya berjudul Syifa’ul Asqom fi Ziyarat Khairil Anam. Kitab itu ditulis dengan argumentasi yang kuat untuk mengkritisi pendapat Ibnu Taimiyah yang mengharamkan ziarah kubur ke makam Rasulullah Shalalluhu alaihi wa salam. Kitab ini mendapat perhatian khusus dari Maula Ali al-Qory,  seorang ulama pakar fikih yang bermazhab Hanafiyah yang akhirnya mensyarah kitab As-Subki dengan judul Syarh Syifa’i al-Asqom.
Dalam kitab Thabaqot as-Syafi’iyah disebutkan bahwa berkaitan dengan Ibnu Taimiyah as-Subki berkata: “Sesungguhnya pemikirannya (Ibnu Taimiyah) tidak sesuai dengan keyakinan mayoritas jumhur dan ia telah membikin-bikin dalam hal dasar-dasar keyakinan dan menentang tonggak-tonggak Islam.…maka berarti ia telah keluar dari al-Ittiba’ menuju al-Ibtida’ dan melakukan keanehan dari mayoritas kaum muslimin”.
Ibnu Taimiyah sendiri yang mendapat kritikan, tetap memberikan penghormatan yang besar kepada As-Subki dan memuji karya-karyanya. (lihat, Tabaqat Asyafi’yah Al Kubra, vol.10, hal. 194).
Taqiyudin As-Subki adalah seorang ulama besar bermazhab Syafii yang pendapat-pendapatnya terkadang berbeda dengan mazhab yang dianutnya. Diantaranya ia membolehkan metode hisab dalam menentukan awal Ramadhan yang dalam mazhab Syafii tidak digunakan. Tentu saja pendapatnya ini didasari oleh ijtihadnya sebagai seorang mujtahid yang diakui pada masanya.
Dalam kitab Majmu al-Rasail Al Muniriyah disebutkan bahwa mulanya As-Subki  menilai bahwa hadits tentang qunut subuh adalah dhaif. Namun setelah ia melakukan penelitian sendiri, ternyata hadits tersebut shahih. Inilah yang merubah sikapnya dari yang tidak mau qunut subuh kemudian melakukannya.
Adapun pendapatnya tentang ahli bid'ah diantaranya tertuang dalam kitab Al-Yawaqit wa Al-Jawahir, karya Asy-Sya'rani yang menyebutkan bahwa Asy-Syaikh Syahabuddin Al-Adzra'i, penulis buku Al-Qut, bertanya kepada Syaikh Al-Islam Taqiyuddin As-Subki, sebagai berikut: "Bagaimanakah pandangan Syaikh Al-Islam tentang perbuatan melontarkan tuduhan sebagai 'kafir' terhadap para ahli bid'ah (dalam hal akidah)?" Taqiyuddin As-Subki menjawab: "Ketahuilah wahai saudaraku, bahwa keberanian mengkafirkan orang-orang yang beriman adalah sesuatu yang amat serius. Setiap orang yang menyimpan keimanan dalam kalbunya, akan merasa sangat takut melontarkan ucapan pengkafiran terhadap para ahli bid'ah itu, sementara telah mengikrarkan kalimat La ilaha illa Allah Muhammad Rasul Allah. Sungguh, pengkafiran adalah perkara yang amat serius dan sangat berbahaya.....Maka demi menjaga adab dan sikap lurus, setiap prang Mukmin hendaknya menjauhkan diri dari perbuatan raengkafirkan siapa pun dari para ahli bid'ah itu, kecuali apabila mereka secara terang-terangan berlawanan dengan nash-nash yang jelas dan pasti dan yang tidak mengandung kemungkinan untuk ditakwilkan."
Pejabat Yang Peduli Pendidikan Anaknya
As-Subki lahir di tahun 683 hijriyah (1284 M) di Al-Manufiyyah. Nama lengkapnya adalah A’li Bin A’bdul Kafi Bin A’di Bin Tamam as-Subki Al-Ansari Al-Khazraji Abul Hasan Taqiyuddin.  Ayahnya, seorang hakim bernama Zainuddin.
Sewaktu kecil orang tuanya memboyong ke Mesir, untuk berguru kepada beberapa ulama, seperti Hafidz Dimyathi dan Syaikh al-Islam Ibnu Daqiq al-Ied. Sejak menimbah ilmu As-Subki dikenal anak yang cerdas dan disiplin. Sehingga dalam waktu singkat ia menguasai banyak ilmu.
Setelah mendapat ilmu banyak dari para ulama di Kairo, ia kemudian pindah ke Syam (Syria). Karena ketinggian ilmu dan kealimannya ia dilantik sebagai Qadi di negeri ini. Bahkan ia mendapat gelar Qadi al-Qudaat (hakim dari hakim) di negara tersebut.
Meski berprofesi sebagai pejabat, namun hal itu tidak mengurangi produktifitasnya dalam menulis buku. Selain buku-buku di atas masih banyak karya lain yang ia hasilkan, yang tidak kalah dengan Ibnu Taimiyah. Sayangnya buku-buku tersebut tidak terpelihara dengan baik.
Yang juga menarik dari sosok ulama satu ini, yaitu perhatiannya terhadap pendidikan anaknya. Ia selalu memantau perkembangan pendidikan anaknya bernama Tajudin As-Subki, yang kelak juga menjadi seorang ulama besar yang mengarang kitab Tabaqat as-Syafiiyah.
Imam As-Subki selalu mengecek perkembangan keilmuan Tajudin. Simak penuturan Tajuddin As- Subki (771H):”Aku jika datang dari seoarang syaikh, maka ayahku (Taqiyuddin As-Subki) berkata kepadaku,”tunjukkan apa yang telah kamu peroleh, yang kamu baca dan yang kamu dengar”. Maka, aku menerangkan tentang hal-hal yang telah kuperoleh dalam majelis. Jika aku pulang dari Ad Dzahabi, ia berkata,”tunjukkan yang telah engkau dapat dari syaikhmu”. Jika aku pulang dari Syaikh Najmuddin Al Qahfazi, ia mengatakan,”yang kau dapat dari masjid Thingkiz”. Jika aku pulang dari Syaikh Syamsuddin Ibnu Naqib, maka ia mengatakan,”yang kamu dapati dari Syamiyah”. Jika aku pulang dari Syaikh Abu Abbas Al Andarsy, ia mengatakan, ”yang kau dapati dari masjid”. Jika aku pulang dari Hafidz Al Mizzi, ia mengatakan,”yang kamu peroleh dari As Syaikh”. Ia melafadzkan kata As Syaikh dengan fashih, dan meninggikan suaranya. Aku mengerti, bahwa itu bertujuan agar aku juga ikut merasakan kebesaran nama Al Mizzi, hingga aku lebih banyak mendatangi majelisnya”. (lihat, Thabaqat As Syafi’iyah, As Subki, 10/399).
Syaikh Taqiyuddin As-Subki  wafat pada tahun 756 H di Kairo, Mesir. Penguburan jenazahnya diiringi ribuan umat Islam. Ada yang mengatakan bahwa tidak ada yang bisa menandingi jumlah petakziyah Imam Ahmad bin Hanbal, kecuali jumlah petakziyah as-Subki.

Poskan Komentar