Jumat, 29 Juli 2016

JABATAN JADI SIKSAAN DIAKHIRAT

Buletin Al Bayan Jumat , Edisi : 0006, 24 Syawal 1437 H/29 Juli 2016 M


وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(Al Baqarah : 188)”

Salah satu sifat manusia adalah hubbul jah atau mencintai jabatan, pangkat dan kedudukan. Hal itu merupaan sesuatu yang rasional karena salah satu karakter manusia adalah mencintai kemulyaan dan kesempurnaan sesuai dengan kedudukan manusia sebagai khalifah dimuka bumi yang memang merupakan fitrah manusia  yang diberikan oleh Allah SWT.


Melihat bahwa jabatan, kekuasaan dan kedudukan merupakan sebuah sarana yang dapat menghantarkan manusia untuk bisa memiliki, mengendalikan, bahkan meraih semua yang dia inginkan, maka manusia saling berebut, bersaing dan berambisi untuk bisa meraih jabatan, kekuasaan dan kedudukan itu.

Namun yang menjadi permasalahan adalah seandainya orang-orang yang tidak memiliki kahlian dan kemampuan serta sifat amanah merasa berhak untuk ikut bersaing dalam merebut kursi kekuasaan, sehingga setiap ada kesempatan untuk menduduki satu atau lebih suatu jabatan, maka tidak ada kata untuk mundur apalagi menyerah untuk meraih kedudukan itu,

dan ketika sudah duduk dalam kursi empuk suatu jabatan iapun tidak merasa puas hanya mampu untuk menjabat satu periode ataupun suatu level tertentu dalam suatu jabatan namun sebagai suatu usaha yang berkesinambungan dia harus mempersiapkan langkah-langkah dan strategi untuk pencalonan berikutnya sebagai pencapaian karir yang maksimal.

RAKUS JABATAN

Betapa tergiurnya semua orang oleh fasilitas dan kenikmatan kekuasaan seandainya dia tidak sempat memikirkan kemampuan dirinya dalam mengemban amanah dan resiko yang besar dalam setiap keputusan yang diambil karena menyangkut kehidupan orang banyak  serta tanggungjawab yang besar baik dihadapan manusia maupun kelak dihadapan mahkamah Allah SWT,.
Padahal rasulullah SAW telah memperingatkan kepada kita :
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ
“ dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "kalian akan rakus terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan. (HR. Bukhari)
Dalam riwayat yang lain Rasulullah SAW bersabda ” permulaan kekuasaan adalah kepahitan pertengahannya adalah penyesalan dan akhirnya adalah siksaan dihari qiyamat.”

Hadis di atas mengabarkan  prediksi Nabi SA tentang apa yang akan terjadi pada umatnya. Dan itu bisa kita lihat dalam realitas kehidupan sekarang ini dimana kebanyakan manusia saling berlomba dan berebut untuk menduduki jabatan serta  berbangga-bangga dengan jabatan dan kekuasaan, sehingga untuk bisa mencapainya segala cara harus ditempuh walaupun dengan cara yang haram.

Benarlah sabda Nabi “ Permulaan Kekuasaan adalah Kepahitan “

Bukankah untuk meraih kekuasaan dan jabatan seseorang akan mengerahkan segala daya dan upaya dengan mengeluarkan dana yang besar serta perjuangan yang tidak ringan dan yang paling menyedihkan jika harus melakukan segala cara walaupun cara yang haram. Dengan memanipulasi, menyuap dan membeli dukungan untuk meraih kekuasaan. Padahal allah SWT telah memperingatkan :
وَلا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
 “Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui.(Al Baqarah : 188)”
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاشِي وَالْمُرْتَشِي
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat orang yang memberi uang sogokan dan orang yang menerimanya."(HR Abu Daud)

Dalam riwayat yang lain “ Penyuap dan penerima suap akan dimasukkan ke neraka”

Permulaan kekuasaan adalah pahit bagi yang menang karena dia harus membayar mahal apa yang sebenarnya belum tentu dia bisa menikmati dan tentunya sangat pahit bagi yang kalah karena dia membayar mahal sesuatu yang dia tidak bisa menikmati.

KeKuasaan “pertengahannya adalah penyesalan”

Seseorang yang diberi amanah kekuasaan akan dihadapkan dua sikap, pertama mengemban amanah dengan jujur dan adil, dan ini sangat berat sekali ibarat memegang bara api, dipegang terbakar di biarkan terlepas,timbullah di dalam hati penyesalan kenapa mau menanggung tangung jawab yang berat ini.  Sikap yang Kedua, yaitu menggunakan kekuasaan itu untuk memenuhi ambisi pribadinya dengan menumpuk kekayaan walaupun dengan cara korupsi. Sehingga hidupnya penuh dengan penyesalan karena dikejar-kejar oleh hutang dan ambisi pribadi serta dikejar-kejar oleh penegak konstitusi karena melakukan korupsi sehingga akhirnya masuk bui.

“AKHIR KEKUASAAN ADALAH SIKSAAN DI HARI KIAMAT.”

Kekuasaan akan menjadi penyesalan pada hari kiamat nanti bagi yang tidak menggunakan kekuasaan itu dengan benar. Karena semua kedzaliman-kedzaliman akan di mintai pertanggungjawaban dan akan diberikan hukuman nanti pada hari kiamat oleh Allah SWT.

Namun sebaliknya bagi yang mampu menggunakan kekuasaan itu dengan benar dan adil dan dengan kekuasaanya ia bukan untuk mencari kedudukan di dunia dan juga bukan untuk berbuat kerusakan namun hanya memiliki tujuan akhirat, maka kedudukan dan pahalanya sangat besar di hadapan Allah SWT, dalam salah satu hadisnya Rasulullah menjelaskan bahwa ” salah satu yang akan mendapatkan perlindungan Allah pada hari tidak ada perlindungan adalah seorang pemegang kekuasaan yang adil.”
Allah SWT menjelaskan :
تِلْكَ الدَّارُ الآخِرَةُ نَجْعَلُهَا لِلَّذِينَ لا يُرِيدُونَ عُلُوًّا فِي الأرْضِ وَلا فَسَادًا وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِينَ
“Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak menginginkan ketinggian di atas bumi dan berbuat kerusakan. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa. (Al Qashash : 83)

Kekuasaan dan jabatan adalah merupakan sarana bukan merupakan tujuan, kalau tujuannya baik maka Jabatan’ kedudukan dan kekuasaan adalah sesuatu yang sangat diperlukan bagi kehidupan manusia.

Di dalam Islam kekuasaan, jabatan, kepemimpinan adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjadi sarana tegaknya kebaikan kehidupan masyarakat. Oleh karena itu ummat Islam tidak boleh hanya diam dan menjadi penonton saja tetapi harus mengambil kekuasaan dan jabatan itu untuk kepentingan dan kemaslahatan umat Islam, apalagi ketika kekuasaan, jabatan itu akan di ambil pihak lain yang mengancam ummat Islam dan akan menimbulkan kerusakan .

Jabatan, kekuasaan dan kedudukan merupakan amanah yang sangat berat, karena dia menuntut keahlian dan tanggung jawab yang besar yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang tertentu yang kuat, jujrur, adil dan  terpilih. Sehingga ketika amanah itu ditawarkan oleh Allah, kepada bumi dan langit, merekapun enggan dan takut  untuk mengemban amanah itu.  Hanya manusia dzalim dan bodoh saja yang mau menaggung amanah yang berat itu. Padahal apabila suatu amanah diserahkan kepada orang yang bukan ahlinya maka tinggal menunggu kehancuran urusan itu.

Kekuasaan dan jabatan akan dapat berguna dan bermanfaat untuk kemaslahatan kehidupan manusia jika di pegang oleh orang yang memiliki keahlian dan sifat amanah serta menggunakannya untuk  menciptakan keadilan dan kemasalahatan kehidupan manusia.

Mudah-mudahan pemimpin-pemimpin kita diberikan petunjuk oleh Allah untuk mampu mengemban amanah. Dan mudah-mudahan kita mampu menjadi orang yang amanah ketika diberi kepercayaan walaupun hal yang remeh.


Bogor, 29 Juli 2016 Oleh : Muhammad Muallip
Poskan Komentar