Kamis, 11 Oktober 2012

Gerakan NII


Kalau kita belajar sejarah Indonesia maka kita akan menemukan data bahwa DI (Darul Islam) TII (Tentara Islam Indonesia)  atau NII (Negara Islam Indonesia) adalah salah satu gerakan Pemberontakan yang pernah muncul di Indonesia yang dipimpin Oleh S.M. Karto Suwiryo. Sejarah tentang NII ini sudah dipelajari dari semenjak tingkat SD sampai perguruan tinggi. Saya masih ingat tentang pelajaran sejarah yang menggambarkan bahwa gerakan DI TII banyak melakukan sabotase dan tindakan-tindakan yang mengacaukan keamanan, mereka melakukan penggulingan kereta api, melakukan perampokan dan lain-lain. Jadi NII memang digambarkan sebagai Gerakan Pendirian Negara di dalam Negara yang sah dan makhluk yang banyak melakukan pengacauan keamanan, sehingga pemerintah Republik Indonesia mengkatagorikannya sebagai pemberontak yang merongrong pemerintahan yang sah dan wajib untuk ditumpas.


Sebagai seorang Muslim yang berlatar belakang pendidikan pesantren, maka dalam pengetahuan kami Islam merupakan agama yang menjadi pedoman dalam hidup tentunya dalam semua aspek kehidupan termasuk dalam tata kehidupan bernegara, karena menurut saya Islam memiliki ajaran yang Kaffah atau universal. Maka salah besar kaum sekuler yang mengganggap bahwa Islam memisahkan antara kehidupan Ritual dan kehidupan sosial politik, untuk agama lain mungkin, namun Islam adalah agama yang sempurna yang ajarannya meliputi semua aspek kehidupan. Itulah yang menjadi keyakinan semua muslim yang pengetahuan keislamannya lengkap.

Islam memang mempunyai ajaran dan nilai-nilai yang juga mengatur kehidupan bernegara dan menurut saya semua sepakat akan hal ini. Dalam persoalan implementasi dan sistemnya mungkin yang banyak diperdebatkan. Apakah bentuknya syura, khilafah, dinasti, republic atau demokrasi, itulah mungkin yang menjadi perdebatan.

Sesuatu yang kontradiksi dalam keyakinan seorang muslim jika Islam agama yang memiliki ajaran yang Universal dianggap salah ketika ditawarkan untuk menjadi system Negara Indonesia, apalagi kalau yang memproklamasikan Negara Islam Indonesia justru di musuhi dan wajib diperangi. Apakah bukan berarti mereka sebenarnya anti Islam dan memusuhi Islam itu sendiri. Itulah mungkin yang menjadi ganjalan dalam pemikiran saya. Hal inilah diantaranya yang menggugah saya untuk mempelajari lebih dalam tentang sejarah Islam Indonesia.

Diawal pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia, perdebatan soal apakah bentuk Negara akan menggunakan Islam atau nasionalis menunjukan peranan tokoh-tokoh Islam sangat kuat bagi terbentuknya Negara Republik Indonesia. Yang disebut dengan Panitia Sembilan adalah terdiri dari 4 anggota perwakilan dari Islam 4 orang dari nasionalis dan 1 orang dari non muslim. Islam sudah ditawarkan dari semenjak awal walaupun dalam prosesnya ternyata mengalami kompromi dan distorsi sehingga hasilnya menempatkan aspirasi umat Islam pada posisi dipinggirkan. Ada sebagian pihak mungkin yang merasa kecewa sehingga dalam kesempatan tertentu mengambil sikap nonkooperatif dengan melakukan gerakan bersenjata, Itulah mungkin kondisi menurut analisa saya yang menjadi salah satu factor pemicu munculnya gerakan DI TII atau NII yang dipimpin oleh S. M. Karto Suwiryo. Namun golongan yang bersikap kooperatif dengan berkompromi dengan semua pihak juga merupakan kelompok mayoritas bangsa ini. Itulah sekilas gambaran kondisi awal Indonesia.

Saya tidak akan mengulas sejarah NII lebih jauh. Namun akan mencoba menelusuri warisan ajarannya apakah masih ada penerusnya atau tidak.? Walaupun gerakan NII S.M. sudah ditumpas namun perbincangan soal NII masih terus ada dan diwariskan kepada setiap generasi. Dalam lingkup kehidupan pribadi dari Ketika masih menempuh pendidikan dipesantren, sudah ada seorang teman yang kadang mengajak saya berdiskusi tentang konsep hukum dan Negara berdasarkan Al Qur’an, karena saya juga belajar tafsir jadi saya memahami apa yang di maksudnya yaitu mengarahkan kepemahaman wajibnya menerapkan hukum Allah dalam Negara. Saya pun di ajak untuk mengikuti kajian tafsir yang dilakukan salah satu tokoh ky yang cukup berpengaruh di kampung yang kajiannya membahas ayat-ayat hukum dan perang yang arah pemahamannya adalah wajibnya menerapkan hukum Allah dalam sebuah Negara. Karena pemahamannya diarahkan secara aktual dalam kondisi di Indonesia sehingga akhirnya mereka mempunyai kesimpulan yang menolak system hukum di Indonesia dan akhirnya anti system pemerintahan Indonesia. Merekapun bercerita tentang kawan-kawan mereka yang alumni Afganistan dan mereka sering melakukan pertemuan dan latihan secara sembunyi.

Kalau saya amati hal itu menjadi semacam keyakinan atau ideology bagi mereka, sehingga mereka sangat agresif terhadap isu-isu Islam. Kadang tindakannya banyak diliputi sikap emosional, sehingga saya sering mengkritik mereka dengan menyampaikan ayat-ayat yang mengimbangi pemahaman mereka yang Radikal, namun justru saya di anggap orang yang suka menyampaikan ayat-ayat es. Karena sering berbeda dengan mereka dan menyebabkan redamnya emosi mereka sehingga suasana menjadi sejuk. Interaksi saya dengan mereka selama masih mesantren hanya sebatas kajian dan diskusi.

Ketika sudah memasuki dunia akademik wawasan saya menjadi luas dan pergaulanpun semakin luas. Dalam sola NII ternyata dalam dunia kampus lebih luas lagi kajianya, ada yang sering memperingati hari proklamasi NII tanggal 7 Agustus 1949 secara sembunyi, ada juga yg aktif dalam koordinasi dengan teman yang lain dan ada juga yang secara khusus melakukan penelitian tentang NII dalam karya tulisnya , saya juga mulai kenal dengan buku-bukunya Al Chaidar diantaranya : Pemikiran Politik Proklamator Negara Islam Indonesia, S.M. Karto Suwiryo, namun karena sikap akademik saya yang mendominasi sehingga sayapun melengkapi bahan bacaan yang lain, tidak hanya yang pro NII namun yang kontra NII, saya pun sempat membaca buku “ Darul Islam dan Kartosuwiryo “Angan-angan yang gagal”, karya Holk H. Dengal.

Ketika sudah mulai mencuat kasus Az Zaitun saya sudah mendapat Informasi dari kelompok mereka kalau sebenarnya Abu Toto alias A.S Panji Gumilang adalah anggota NII KW IX yang keluar dari garis perjuangan Katosuwiryo, dan dia dianggap melakukan banyak penyimpangan dan disebut sebagai kaki tangan Intelejen Republik Indonesia oleh karean itu Abu Toto banyak dimusuhi NII kelompok yang lain. Sayapun sempat membaca buku hasil penelitian LIPI tentang Pesantren Az Zaetun yang disertai dengan bukti-bukti orang-orang yang menjadi korban serta modus-modus perektrutannya.

Ketika di akhir tahun 2011 juga muncul kembali tuntutan untuk memeriksa Abu Toto atas berbagai aduan korbannya sehingga ramai diperbincangkan dimedia masa tentang eksistensi NII KW IX ini, sayapun tetap setia untuk mengikuti perkembangan kasusnya. Sampai akhirnya saya mendapati sebuat karya Ilmiah hasil Penelitian yang dilakukan oleh DR. Asep Zaenal Ausop, M.Ag dalam disertasi beliau yang berjudul “ Ajaran dan Gerakan NII Kartosuwiryo, NII KW IX dan Ma’had Al Zaytun”, saya pun membaca sampai tuntas, beliau juga banyak merujuk kepada berbagai hasil penelitian yang dilakukan DEPAG, MUI dan juga sumber-sumber lain serta dari referensi lain seperti bukunya Al Chaidar “ Serial Musuh-musuh Darul islam” dan juga bukunya Umar Abduh “ Pesantren Al Zaetun Sesat ?” dan sumber-sumber lain.

Penelitian yang cukup bagus mengungkap ajaran dan gerakan NII secara komprehensip dari mulai masa Kartosuwiryo sampai KW IX serta kaitannya dengan Al Zaetun, serta mengkritisi berbagai pemikirannya yang menyimpang diantaranya adalah penafsiran mereka terhadap Al Qur’an yang rasional Liberal yang banyak penyimpangannya serta ijtihad Abu Toto yang supra Liberal yang tidak pernah dilakukan oleh Ulama-ulama Salafus Salih. Serta dampak yang muncul dari perilaku para agen-agen NII yang banyak melakukan tindakan yang bertentangan dengan norma agama seperti berani mengakfirkan orang tua, menghalalkan segala cara dalam mencari dana, dan lain-lian.

Menurut saya beliau cukup adil dan obyektif dalam melakukan penelitian tentang NII jadi bukunya patut untuk menjadi bahan kajian sehingga kita memiliki banyak data dalam memahami gerakan Islam serta tidak mudah tertipu dengan gerakan-gerakan yang mengatasnamakan Islam namun justru dikendalkan oleh orang yang kurang mumpuni dalam memahami Islam. Tujuannya membela dan memperjuangkan Islam namun yang terjadi justru penghancurkan Islam itu sendiri. Mudah-mudahan Allah selalu memberikan tambahan ilmu pengetahuan kepada kita. Wallahu A’lam.

Ciputat, 6/10/12
Muhammad Muallif Al jawi    
Poskan Komentar