Jumat, 08 April 2016

Makna "Turun" bagi Allah SWT ?

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Rabb kita Tabaraka wa Ta’ala TURUN ke langit dunia pada setiap malam yaitu ketika sepertiga malam terakhir, (kemudian) Dia berfirman, ‘Barang siapa berdoa kepada-Ku, niscaya akan Aku kabulkan, barang siapa meminta kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan, dan barang siapa memohon ampun kepada-Ku, niscaya akan Aku ampuni.’”
Pertanyaan saya : Maksud TURUN seperti apa? Sudah pasti berbeda dengan makhluq karena laisa kamitslihi syaiun….Silahkan ustadz-ustadz dijawab

๐Ÿ˜Š
.Aslkm. Wr. Wb. Selamat sore teman2..semuanya saudara seiman..maaf baru sampe rumah alhamdulillah ..ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan dalam hal kajian bersama. 1. Siapapun digrup ini berhak dan boleh untuk menyampaikan pendapatnya, dan semua berhak dihargai pendapatnya.baik pendapatnya didukung kutipan atau tidak 2. Ketika ada kutipan mohon apabila disebutkan marilah kita belajar mengutip secara otentik, kita belajar membuang rasa angkuh dan sombong kita yg akan menutupi kita dari kebenaran, jika itu copas dari internet, medsos atau atau grup sebelah atau blog, sampaikanlah dari mana kutipan itu, jika itu kebaikan mudah2an yg punya tulisan itu rido tulisannya di copas, (jika itu ditanyakan) sehingga kita bisa bersama2 mengkonfirmasi tulisan itu jika diperlukan 3. Jika kutipannya dari buku, terjemahan, atau E-book atau kitab jika memang diperlukan cantumkanlah asal kutipan itu.. Karena kita akan bersama2 membandingkan dan mencocokkan kebenarannya.. 

Referensi dari manapun itu sangat berharga dan diperlukan untuk membantu kita menemukan kebenaran, baik dalam bentuk buku atau kitab. Karena jika referensi diingkari maka berarti dia mengingkati Kitab Al Quran, 'Kitab Tafsir, Kitab2 Hadis dan kitab2 para ulama yng semuanya berisi mutiara2 ilmu yg mereka dapatkan dalam mengarungi lautan Ilmunya Allah, mereka wariskan untuk kita.. Menolak referensi berarti menolak sumber2 Agama Islam yg sangat berharga.. 

Pembahasan mengenai sifat2 Allah dan Dzat Allah sudah dilakukan semenjak dahulu kala, bahkan Allah SWT banyak menyebutkan sifat2 Allah dan bahkan Dzat Allah sendiri di dalam Al Quran, dan Rasulullah SAW pun banyak menyebutkan hadis2 yang berkaitan dengan Sifat2 dan Dzat Allah..Al Quran dan Hadis Rasulullah akan dapat kita fahami kalau kita memikirkannya, oleh karena itu muncullah pembahasan dikalangan para ulama, mengenai ilmu tauhid yg membahas tentang sifat2 Allah dan Dzat Allah..semua itu adalah upaya untuk memahami. Al Quran, As Sunnah dalam rangka mengenal Allah dzat yg Maha tidak terbatas. 

Allah banyak memerintahkan kita untuk berfikir dan menggunakan akal didalam Al quran oleh karena itu hadis yg melarang berfikir perlu dikaji karena bertentangan dengan Al Quran.. Dengan niat untuk mengenal Allah maka menurut saya kita tidak perlu takut membahas hal2 yang berkaitan dengan Allah..bagaiman kita akan mengenal Allah kalau kita takut berfikir dan membahas hal2 yg berkaitan dengan Allah, bagaimana kita akan meyakinkan orang yg tidak mengenal Allah kita saja tidak kenal Allah..Tersesatnya orang yang dalam proses mencari kebenaran tentang Al Haq masih lebih baik dari pada orang dalam kesesatan namun tidak mau mencari kebenaran..dan Allah pasti akan memberikan petunjuk kepada hambanya yg ingin mendapat petunjuk tentang-Nya

Keimanan yang disertai dengan Ilmu dan hujjah akan lebih baik dan lebih sulit digelincirkan dari pada orang yang iman hanya berdasarkan taklid..Coba baca Al Quran dan renungi kisah Nabi Ibrahim yang mencari Allah, Beliau berfikir Matahari,Bulan, bintang itu dzat Allah , apakah salah apa yg dilakukan Nabi Ibrahim As,? Kenapa Allah mencantumkan kisah itu? Untuk apa kita baca? Oleh karena itu..hadis yg ditanyakan oleh Ustadz R dijelaskan oleh para ulama dengan mengutip berbagai pendapat para ulama yang berbeda2..Para ulama dahulu itu sangat jembar menghargai perbedaan pendapat..seperti imam Nawawi..yg sudah dishere tadi oleh Ustadz B..Bahkan Imam Ibnu hajar menyebutkan ada beberapa  pendapat ulama. Jika kita membatasai pembahasan, berarti kita tidak mengikuti ulama2. 


Saya mengimani apa yg dijelaskan oleh Allah dan Rasulullah SAW sesuai dengan pandangan jumhur namun saya tidak menolak takwil, tafsir bahkan pembahasan jika memang itu diperlukan dan membawa kebaikan..Dzat dan sifat Allah itu adalah sesuatu yang berkaitan..ketika membahas sifat wahdaniyat maka para ulama pasti membahas wahdaniyat dalam sifat dan dzat.. Coba baca kitab tijan Darori : ketika menyebutkan dzat maka apakah ini bukan berarti Syaikh Nawawi membahas dzat Allah..?? Silahkan di ngaji lagi kitab tijan.


.kitab2 tauhid yg saya baca selain membahas sifat juga membahas dzat, namun dengan tujuan memaha sucikan Allah dari sifat kekurangan..atau sifat makhluk..Sering2 membaca Al Quran Insya Allah akan mendapat petunjuk dari Allah Nabi Musa pernah meminta kepada Allah supaya beliau bisa melihat dzat Allah Namun Allah mengatakan"Engkau tidak akan mempu melihat aku" ( tapi Alllah tidak melarang Nabi musa berusaha melihat Allah..sampai akhir kisah..silahkan dtafakuri mudah2an kita semakin mengenal dan lebih mendekat kepada Allah.Bogor, 5 April 2016.
Poskan Komentar