Kamis, 24 Mei 2012

Masa Orang-Orang terdahulu


“Standarisasi ittiba us Salaf dengan segala perkembangan dan perubahannya tidak hanya sebatas pada kata dan namanya saja yang diucapkan atau mengambil contoh sebagian saja dari mereka, karena mereka sendiri tidak melakukan hal itu. Tetapi iitiba’ salaf yang benar adalah dengan mengikuti mereka tentang kaidah-kaidah di dalam menafsirkan dan menakwili nash, dan dasar-dasar ijtihad dalam memahami prinsip-prinsip dasar hukum Islam. Merujuk kembali kepada kaidah-kaidah dan ushul-ushul ini merupakan kewajiban bagi setiap ummat Islam di dalam setiap masa”.


Itulah salah satu pemikiran yang disampaikan oleh DR. Said Ramadhan Al Buthi, beliau mengupas secara ilmiah dan konprehensif tentang cara & metode yang benar dalam mengikuti manhaj Salaf tidak hanya dengan langsung memahami teks nas dengan meninggalkan metode yang pernah digunakan oleh Para Generasi Awwal atau saya menyebutnya dengan apa yang di sebutkan Al Qur’an  Assabiqunal Awwalun .

Dalam bukunya beliau mengawali dengan menjelaskan tentang factor-faktor yang mendorong munculnya manhaj Ilmiah beserta penjelasannya dengan menjelaskan keistimewaan-keistimewaan yang dimiliki sahabat-sahabat Rasulullah di mana mereka merupakan generasi Islam yang terbaik  yang langsung dibimbing oleh Rasulullah SAW, sehingga mereka memiliki penguasaan bahasa Arab yang matang dan murni dari pengaruh  masyarakat luar Arab,  mereka juga memiliki fitrah Agama Islam yang masih suci yang selalu mengajak kepada ketaatan dan ketundukan.  

Kemudian tentang  factor-faktor yang mendorong perkembangan manhaj Ilmiah, dimana kondisi kehidupan para sahabat yang tadinya berjalan dengan apa adanya namun sedikit-demi sedikit berubah dalam metode pemikiran, manhaj tarbiyah dan tradisi mereka disebabkan sebab-sebab dan factor-faktor yang muncul sebagi pemicu. Di antaranya adalah perluasan penaklukan daerah kekuasaan Islam sehingga para sahabat banyak bersinggungan dengan kondisi masyarakat, tradisi dan bahkan kepercayaan yang berbeda, juga banyak dari pemeluk agama-agama lain yang masuk kedalam agama Islam sehingga banyak muncul pemikiran yang mempertanyakan doktrin-doktrin kepercayaan di dalam Islam yang selama ini tidak pernah di tanyakan. Dan Juga disebabkan masuknya beribu-ribu penduduk Negara-negara tetangga kedalam Negara Islam. Menyebarnya kaum Zindik dan propagandis.

Kemudian munculnya berbagai persoalan kegamaan yang dulunya belum pernah ada sehinga mendorong mereka untuk menyusun manhaj yang mampu memecahkannya, sehingga dalam perkembangannya di sepakati suatu metodologi atau manhaj yang komprehensif, dengan begitu bisa di pisahkan mana titik-titik yang disepakati dan mana wilayah-wilayah yang diperselisihkan.

Kemudian manhaj itu bisa diaplikasikan secara menyeluruh dengan menetapkan dasar-dasar hukum yang tidak menerima adanya perbedaan sehingga bisa dipisahkan mana kesalahan-kesalahan dan penyimpangan yang jelas-jelas batil. Dan juga di jelaskan tentang masalah dan pendapat yang tidak murni benar dan tidak murni salah yang meliputi nash-nash mutasyabihat dan cakupan bahasannya tentang ayat-yat sifat, bid’ah pengertian dan hukumnya, dilanjutkan dengan sejenak bersama Ibnu Taimiyah dengan menanggapi beberapa pemikirannya tentang masalah ayat-ayat mutasyabih, tasawuf dan filsafat, ada hal yang menarik dari penjelasan Al Buthi bahwa Ibnu Taimiyah adalah orang yang mengharamkan ilmu kalam dan Filsafat setelah beliau gagal dengan filsafat namun beliau sendiri ternyata bergumul dengan filsafat  dan kemudian membahas tentang Tasawuf dan permasalahnnya.

Kemudian beliau juga membahas tentang topik bahasan bahwa mengklaim bermazdhab Salaf adalah Bid’ah, beliau membedakan antara mengklaim sebuah madzhab dengan ittiba’, kemudian dikemukakan juga tentang dalil-dalil yang  menjelaskan bahwa mengklaim  bermadzhab Salafi adalah bid’ah. Di akhir bukunya beliau menjelaskan atas dampak negative atas bid’ah-bid’ah yang dilakukan kelompok salafi.

Demikian hasil pembacaan terhadap bukunya DR. Said Ramadhan Al Buthi  “ As Salafiyah Marhalah Zamaniyah Mubarakah Laa Madzhabun Islamiyyun.”, mudah-mudahan menambah wawasan befikir.


Ciputat, 24/05/12

Al Faqir Ila Rahmatillah
Poskan Komentar