Selasa, 29 Mei 2012

Hadis Yang sudah Tidak diamalkan


Berbicara mengenai Nasikh dan mansukh sebenarnya kita membahas persoalan yang sangat urgen, karena nasikh dan mansukh merupakan salah satu cabang ilmu baik dalam Ulumul Qur’an maupun Ulumul Hadits.

Menurut istilah dalam ilmu hadis yang dimaksud dengan nasakh adalah pembuat hukum mengangkat hukum yang terdahulu dengan hukum yang lain.

Pengetahuan mengenai nasikh dan mansukhnya suatu hadis merupakan cabang ilmu yang amat penting lagi amat sulit. Az Zuhri berkata : “ perkara yang paling melelahkan dan melemahkan para Fuqaha’ adalah mengetahui hadis yang nasikh dan mansukh.” Tokoh yang terkenal dalam bidang ini adalah As Syafi’I, beliau mempunyai kemampuan  yang mumpunidan tergolong pionernya. Imam Ahmad mengatakan kepada Ibnu Warah (tatkala baru datang dari Mesir) :” apakah engkau telah mencatat kitab-kitabnya Syafi’I ? ia menjawab : “tidak’. Maka Imam Ahmad menimpali : “ Engkau telah lalai. kita tidak pernah mengetahui hadits yang mujmal dari yang mufassar, juga hadis yang nasikh dari yang mansukh sampai kita duduk dengan As Sayafi’i.”
(Tadribur Rawi, Imam As Suyuthi & Taisir Mustolah Hadis, Prof. DR Mahmud Thahan)

Imam Ali pernah menyaksikan seseorang bernama Abu Yahya yang tengah berceramah di depan orang banyak. Lalu Ali bertanya kepadanya ? : “ Apakah anda mengerti persoalan nasikh dan mansukh ? Abu Yahya menjawab : “ tidak”. Kata Ali :” kalau begitu anda celaka dan mencelakakan orang lain.” Ali menarik telinganya sambil berkata : “ mulai saat ini jangan lagi berceramah di masjid ini.” (Mukhtashar al Nasikh wa Al Mansukh fi Hadits Rasulullah, DR. Izzuddin Husain as Syaikh)

HADIS LARANGAN ZIARAH KUBUR ADALAH MANSUKH

Salah satu contoh hadis yang mansukh adalah riwayat Imam Turmudzi :

   حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَعَنَ زَوَّارَاتِ الْقُبُورِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَحَسَّانَ بْنِ ثَابِتٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رَأَى بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ أَنَّ هَذَا كَانَ قَبْلَ أَنْ يُرَخِّصَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَلَمَّا رَخَّصَ دَخَلَ فِي رُخْصَتِهِ الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ و قَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّمَا كُرِهَ زِيَارَةُ الْقُبُورِ لِلنِّسَاءِ لِقِلَّةِ صَبْرِهِنَّ وَكَثْرَةِ جَزَعِهِنَّ

“Telah menceritakan kepada kami Qutaibah, telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Umar bin Abu Salamah dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam melaknat wanita-wanita yang menziarahi kuburan. (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Ibnu Abbas dan Hassan bin Tsabit." Abu Isa berkata; "Ini merupakan hadits Hasan shahih. Sebagian ulama berpendapat bahwa larangan ini sebelum keluarnya keringanan dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengenai bolehnya menziarahi kuburan. Setelah beliau memberikan keringanan di dalamnya, termasuk di dalamnya laki-laki maupun perempuan. Adapun sebagian dari mereka berpendapat; dimakruhkannya berziarah atas wanita karena sedikitnya kesabaran dan banyaknya keluh kesah mereka."(HR. Turmudzi)

Hadis di atas di mansukh atau dibatalkan oleh hadis-hadis di bawah ini :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَمَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ وَالْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ الْخَلَّالُ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمِ النَّبِيلُ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ كُنْتُ نَهَيْتُكُمْ عَنْ زِيَارَةِ الْقُبُورِ فَقَدْ أُذِنَ لِمُحَمَّدٍ فِي زِيَارَةِ قَبْرِ أُمِّهِ فَزُورُوهَا فَإِنَّهَا تُذَكِّرُ الْآخِرَةَ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَأَنَسٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ وَأُمِّ سَلَمَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ لَا يَرَوْنَ بِزِيَارَةِ الْقُبُورِ بَأْسًا وَهُوَ قَوْلُ ابْنِ الْمُبَارَكِ وَالشَّافِعِيِّ وَأَحْمَدَ وَإِسْحَقَ

“Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar dan Mahmud bin Ghailan dan Al Hasan bin Ali Al Khallal mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim An Nabil telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Alqamah bin Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari Bapaknya berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Saya pernah melarang kalian berziarah kubur. Sekarang telah diizinkan untuk Muhammad menziarahi kuburan ibunya, maka berziarahlah, karena (berziarah kubur itu) dapat mengingatkan akhirat." (Abu Isa At Tirmidzi) berkata; "Hadits semakna diriwayatkan dari Abu Sa'id, Ibnu Mas'ud, Anas, Abu Hurairah dan Umu Salamah." Abu Isa berkata; "Hadits Buraidah adalah hadits hasan sahih. Ulama mengamalkannya mereka berpendapat bahwa ziarah kubur tidak mengapa. Ini adalah pendapat Ibnu Mubarak, Syafi'i, Ahmad dan Ishaq"(HR. Turmudzi)


Kebolehan Ziarah kubur itu meliputi laki-laki dan perempuan.Imam Bukhari meriwayatkan dalam Sahihnya  :

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ  عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِامْرَأَةٍ عِنْدَ قَبْرٍ وَهِيَ تَبْكِي فَقَالَ اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي
“Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berjalan melewati seorang wanita yang sedang berada di kuburan dalam keadaan menangis. Maka Beliau berkata;: \"Bertakwalah kamu kepada Allah dan bersabarlah"(HR.Bukhari)

Imam Ahmad juga meriwayatkan.

حَدَّثَنِي عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ وَأَبُو دَاوُدَ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ الْمَعْنَى حَدَّثَنَا ثَابِتٌ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يَقُولُ لِامْرَأَةٍ مِنْ أَهْلِهِ أَتَعْرِفِينَ فُلَانَةَ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِهَا وَهِيَ تَبْكِي عَلَى قَبْرٍ فَقَالَ لَهَا اتَّقِي اللَّهَ وَاصْبِرِي فَقَالَتْ لَهُ إِيَّاكَ عَنِّي فَإِنَّكَ لَا تُبَالِي بِمُصِيبَتِي قَالَ وَلَمْ تَكُنْ عَرَفَتْهُ فَقِيلَ لَهَا إِنَّهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخَذَ بِهَا مِثْلُ الْمَوْتِ فَجَاءَتْ إِلَى بَابِهِ فَلَمْ تَجِدْ عَلَيْهِ بَوَّابًا فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَمْ أَعْرِفْكَ فَقَالَ إِنَّ الصَّبْرَ عِنْدَ أَوَّلِ صَدْمَةٍ

“Telah bercerita kepadaku Abdushomad telah menceritakan kepada kami Syu'bah dan Abu Daud, berkata: telah mengabarkan kepada kami Syu'bah secara makna. Telah menceritakan kepada kami Tsabit, ia berkata, saya mendengar Anas pernah berkata kepada seorang wanita, \"Apakah kau tahu wanita yang ketika Rasul Shallallahu'alaihi Wasallam menjumpainya sedang menangis diatas sebuah kuburan, maka Rasul menegur wanita tersebut dengan mengatakan, "bertakwalah pada Allah dan bersabarlah!." Maka si wanita tersebut malah menjawab; "Pergi kau!, karena kamu tidak tahu dengan musibah yang kualami." Anas Berkata, "si wanita belum mengenal si penegur, maka ketika ia diberi informasi bahwa dia adalah Rasulullah Shallallahu'alaihi WaSallam, si wanita itu kontan bergegas mencarinya seperti orang yang akan meninggal dan mendatangi rumahnya, namun tidak ada penjaganya. Lalu wanita itu berkata, "Maaf ya Rasulullah, tadi saya belum mengenal anda. " Maka Rasul bersabda, "Sesungguhnya kesabaran itu terlihat ketika gejolak pertama.."(HR. Ahmad)

Imam Turmudzi meriwayatkan :

حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ حُرَيْثٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ تُوُفِّيَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي بَكْرٍ بِحُبْشِيٍّ قَالَ فَحُمِلَ إِلَى مَكَّةَ فَدُفِنَ فِيهَا فَلَمَّا قَدِمَتْ عَائِشَةُ أَتَتْ قَبْرَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَتْ وَكُنَّا كَنَدْمَانَيْ جَذِيمَةَ حِقْبَةً مِنْ الدَّهْرِ حَتَّى قِيلَ لَنْ يَتَصَدَّعَا فَلَمَّا تَفَرَّقْنَا كَأَنِّي وَمَالِكًا لِطُولِ اجْتِمَاعٍ لَمْ نَبِتْ لَيْلَةً مَعَا ثُمَّ قَالَتْ وَاللَّهِ لَوْ حَضَرْتُكَ مَا دُفِنْتَ إِلَّا حَيْثُ مُتَّ وَلَوْ شَهِدْتُكَ مَا زُرْتُكَ

“Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Huraits, telah menceritakan kepada kami Isa bin Yunus dari Ibnu Juraij dari Abdullah bin Abu Mulaikah berkata; "Abdurrahman bin Abu Bakar meninggal di Hubsyi. Kemudian dia dibawa ke Makkah dan dikubur di dalamnya. Tatkala Aisyah datang, dia mengunjungi kuburan Abdullah bin Abu Bakar, lalu berkata; "Kami adalah orang yang duduk di suatu raja di Iraq dalam waktu yang lama (empat puluh tahun) sampai dikatakan tidak akan berpisah lagi. Tatkala kami berpisah, seolah saya dan si mayit karena lamanya bersatu, belum pernah sekalipun bermalam bersama." Lalu dia berkata; "Demi Allah, kalau saja saya hadir pada (kematian) mu, niscaya kamu tidak akan dikubur kecuali di tempat kamu meninggal. Seandainya saya menyaksikanmu, niscaya saya tidak akan mengunjungimu."(HR. Turmudzi)

Hadis-hadis tersebut menunjukan bolehnya menziarahi kubur, baik laki-laki maupun perempuan. Dan hadis-hadis ini menasakh atau membatalkan hadis-hadis terdahulu di atas & yang semakna yang melarang ziarah kubur. Artinya hadis-hadis larangan ziarah kubur itu sudah tidak di amalkan.


Demikian mudah-mudahan menambah wawasan. wallahua'lam.


Muhammad Muallif

Ciputat, 29 Mei 2012






Poskan Komentar