Sabtu, 12 November 2011

Buku Baru Perlu Di baca !!!


Judul                : Mereka Memalsukan Kitab-Kitab Karya Ulama Klasik: Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi
Penulis              : Syaikh Idahram
Tebal                : 306 hlm
ISBN                 : 978-602-8995-01-6
Terbit               : Cetakan I, 2011
Penerbit            : Pustaka Pesantren, Yogyakarta.

Buku ini merupakan lanjutan dari Trilogi Data dan Fakta Penyimpangan Salafi Wahabi, sebuah kelompok yang namanya dinisbatkan dari nama pendidinya, yakni Muhammad ibnu Abdul Wahhab. Dalam buku pertama Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi, sang penulis buku, Syaikh Idahram, telah memaparkan beberapa kekejaman dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Sekte Salafi Wahabi. Sedangkan dalam buku kedua ini, ia membahas kembali episode kebohongan Sekte Salafi Wahabi, yang memalsukan kitab dan menyelewengkan teks agama guna memuluskan kepentingan/kekuasaan (politisasi) kelompok mereka.


Kitab atau buku, bagi kaum muslim merupakan salah satu media utama dalam mencari kebenaran. Setelah Al-Qur’an dan hadist, kitab-kitab klasik karya ulama-ulama besar menjadi referensi setelah keduanya. Kitab-kitab seperti kitab Shahih Bukhari (Imam Bukhari), Ihya’ Ulumuddin (Imam Ghozali) dan kitab-kitab dari ulama besar lain, merupakan hujjah yang isinya banyak dijadikan sandaran bagi umat Islam. Lalu, apa jadinya jika kitab-kitab para ulama yang mewarisi ilmu dan petunjuk itu dikotori, diselewengkan, dan bahkan diselewengkan?

Barangkali anda akan terperanjat, ketika di dalam buku ini banyak dipaparkan sejumlah fakta kasus-kasus penyelewengan kitab yang dilakukan oleh Salafi Wahabi. Mulai dari pemusnahan dan pembakaran buku; sengaja meringkas, men-tahkik (penelitian secara mendalam terhadap sebuah manuskrip sebelum mencetak/menerbitkannya), men-takhrij (penelitian terhadap suatu hadist untuk menunjukkan atau menisbatkan hadist tersebut kepada sumber-sumbernya yang asli) kitab-kitab hadist yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyikan hadist-hadist yang tidak mereka sukai; menghilangkan hadist-hadist tertentu yang tidak sesuai dengan faham mereka;

 Sekte Salafi Wahabi sangat menyadari bahwa buku merupakan salah satu media yang paling efektif untuk ‘mengarahkan’ umat kepada faham yang mereka inginkan. Karenanya, tidak aneh jika mereka sangat concern dalam ranah perbukuan, penerbitan, dan penerjemahan. Beragam jenis buku-baik buku kertas maupun e-book/digital-mereka cetak untuk dibagikan secara gratis maupun dengan harga murah. Anda mungkin tidak percaya, tapi inilah di antara buktinya.

 Modus Penyelewengan dan Pemalsuan


 Salafi Wahabi menggunakan segala usaha untuk menghadapi orang-orang yang tidak sesuai dengan akidah mereka. Lebih dari itu, para pendukung kelompok Salafi Wahabi bahkan berani melakukan pengubahan dan pemalsuan pada kitab-kitab ulama terdahulu maupun ulama saat ini, yang mana kitab-kitab tersebut menjadi rujukan dan tumpuan umat Islam dalam mengklarifikasi kebenaran.

Untuk memperkokoh ajaran mereka yang rapuh secara dalil (naqli) maupun secara ilmiah (aqli) apapun mereka lakukan. Diantara modusnya adalah, Pertama, dengan menyelewengkan isi kitab-kitab turats dan makhtuthat (manuskrip) dari teks aslinya, baik dengan menghapus, menambah dan mengubah tulisannya, ataupun membelokkan maksud dan artinya dalam edisi cetakan mereka. Atau dengan sengaja mentahkik, mentakhrij, atau menyembunyikan hadist-hadist yang tidak mereka sukai.

Sebagai contoh, kasus hilangnya beberapa hadist dari kitab Shahih Bukhari, Shahih Muslim dan lainnya, yang diringkas dengan alasan untuk memudahkan dalam membacanya. Padahal dalam ringkasan tersebut, banyak hadist-hadist penting yang mereka buang karena tidak sesuai dengan faham mereka. Seperti yang terjadi pada kitab Syarh Shahih Muslim, dimana mereka membuang hadist-hadist tentang sifat Allah. Juga, sebagaimana hilangnya 49 kalimat dalam kitab Shahih Bukhari.

 Kedua, mereka memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama terkenal sehingga menjadi tidak sempurna, untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya. Hal ini sebagaimana yang terjadi pada pendapat Imam Syatibi dan Ibnu Hazm. Salafi Wahabi mengklaim bahwa Ibnu Hazm mengatakan, “Taqlid (mengikuti dan mencontoh ulama dalam beragama) itu haram.” Padahal, kalimat Ibnu Hazm itu sengaja mereka potong dan belum sampai titik. Adalah benar Ibnu Hazm mengharamkan taklid. Akan tetapi, keharaman taklid itu hanya bagi umat Islam yang mampu berijtihad dalam hukum, bukun bagi setiap orang Islam seperti yang diklaim oleh Salafi Wahabi. (Hal. 41)

Selain kedua modus itu, masih banyak lagi cara yang mereka lakukan dalam rangka memalsukan dan menyelewengkan teks. Diantaranya mereka juga aktif dalam hal pembajakan kitab. Pembajakan ini tidak hanya dilakukan oleh penerbit Darul Kutub al-Ilmiyah di Lebanon terhadap kitab Sirajut Thalibin karya Syaikh Ihsan Jampes (Kediri). Belakangan juga diungkap beberapa manipulasi dalam kitab terbitan Timur Tengah yang beredar di Indonesia.

Pengasuh Ponpes Denanyar Jombang, KH Aziz Masyhuri, mengungkapkan bahwa dalam kitab al-Adzkar terbitan Saudi Arabia, salah satu bagian penting yang menjelaskan tentang ajaran tawasul (berdoa dengan perantara) sengaja dihapus, karena bertentangan dengan ajaran Salafi Wahabi. Padahal kitab yang dikaji di berbagai pesantren itu ditulis oleh ulama Sunni yang dikenal menganjurkan tawasul.

 Bahaya (Laten) Wahabisme di Nusantara

 Meski banyak gambaran yang serba negatif tentang pemikiran dan gerakan Wahabiyyah, menurut Prof Azyumardi Azra, ironisnya sampai sekarang paham ini merupakan aliran keagamaan yang dianut dan diterapkan Kerajaan Arab Saudi. Oleh karena itu, pemerintah dan lembaga-lembaga di dalamnya berusaha melakukan penyebaran Wahabisme lewat pemberian dana dan bantuan lainnya kepada institusi, organisasi, dan kelompok muslim di berbagai wilayah dunia. Mereka juga membagi-bagikan Al-Qur’an dan literatur Islam, khususnya buku-buku karya Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Ibnu Taymiyyah, yang merupakan sumber pokok Wahabisme dan Salafisme.

Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Wahabisme tidak pernah populer. Gerakan yang bertujuan untuk ‘pemurnian’ Islam ini menemukan momentumnya di Nusantara sejak awal abad ke-20 berkat pengaruh tokoh semacam Syaikh Muhammad Abduh dan Syaikh Muhammad Rasyid Ridha. Dengan karakter Islam Nusantara yang secara tradisional sangat dipengaruhi tasawuf dan tarekat, Wahabisme sejatinya sulit mendapat pijakan yang kuat di Indonesia dan wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara.

 Namun, bila kita melihat sejarah dari aliran ini, seperti beberapa kekejaman yang pernah dilakukan terhadap para ulama (Lihat Buku pertama) dan sejumlah penyelewengan/pemalsuan terhadap teks-teks agama Islam seperti yang telah dipaparkan dalam buku ini, maka kita juga mesti tetap mewaspadai keberadaannya. Cukup dilematis memang, orang bijak yang mengatakan seratus musuh di luar lebih baik daripada musuh di dalam. Dalam konteks ini, di satu sisi kita mesti tetap memperkuat ukhuwah terhadap sesama umat Islam untuk menghadapi musuh di luar, namun ketika mendapati fakta-fakta yang demikian, maka kita juga lebih hati-hati dan waspada akan bahaya (laten) Salafi Wahabi,yang bisa diibaratkan sebagai musuh dari dalam.

Buku di atas banyak mendapat tanggapan dari berbagai pihak baik yang pro maupun yang kontra termasuk dari Peresensi          : M. Ajie Najmuddin (Aktivis PMII Solo, tinggal di Sukoharjo.) dan juga dari kalangan salafi yang tentunya sangat tersinggung, di antaranya tanggapan dari Agus hasan Basori, Lc, M. Ag

Serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2 (bag. 1)




“MEREKA MEMALSUKAN
KITAB-KITAB KARYA ULAMA KLASIK”
Episode Kebohongan Publik Sekte Salafi Wahabi
Bagian (1)
Agus Hasan Bashori, Lc., M.Ag.
Pendahuluan :
Bismillahirrahmanirrahim.
Buku ini adalah buku ke-2 dari Syaikh Idahram -yang bagi kami ia masih bersifat  majhul al-hal (tidak diketahui jatidirinya)- terkait dengan apa yang ia sebut sebagai trilogi data dan fakta penyimpangan salafi wahabi. Sebelumnya adalah buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” dan Buku ke-3 dengan judul yang lebih heboh lagi: “Ulama Sejagad Menggugat Salafi Wahabi”.
Buku pertama sudah kami soroti sedikit mengenai bahayanya yang sangat luas, dalam satu makalah yang kami beri judul “Waspada! Buku “Sejarah Berdarah Sekte Salafi Wahabi” Mengusung Faham Rafidhah (Syi’ah Iran)”. Silakan baca di http://www.gensyiah.com/waspada-buku-sejarah-berdarah-sekte-salafi-wahabi-mengusung-faham-rafidhah-syiah-iran.html Walaupun sebenarnya banyak kesalahan yang ada di dalamnya, namun yang sedikit itu kiranya sudah cukup bagi orang ahlussunnah untuk mengetahui mutu buku itu dan untuk mewaspadai buku dan para pengusungnya.
Sebenarnya kami tidak suka mengomentari tulisan orang lain, namun karena bagian dari kewajiban kami dalam memberi nasehat kepada umat, maka kami pun harus menulis komentar terhadap buku kedua ini.
Dalam promosinya di toko buku online  mereka menulis:
“Buku menjadi sangat berharga dan penting. Ia menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan. Lalu, apa jadinya jika buku-buku para ulama yang mewarisi ilmu dan petunjuk itu dikotori, diselewengkan, bahkan dipalsukan? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?”
Kita perlu bertanya kritis, apa benar buku ini menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan?! Lalu apa jadinya jika buku koreksian terhadap faham salafi ini “diselewengkan” dan berisi banyak fitnah? Ke mana lagi umat ini hendak mencari kebenaran?
Itu baru pertanyaan. Mohon para pembaca sabar sebentar, insyaallah akan kita buktikan bersama.


Lalu lanjutan dari promosi itu berbunyi:
“Barangkali Anda terperanjat, kasus-kasus penyelewengan Salafi Wahabi dalam hal amanah ilmiah ini sangat banyak dan beragam, sebagaimana yang -insya’Allah- akan dikupas dalam buku ini, seperti: pemusnahan dan pembakaran buku; sengaja meringkas, mentahkik, dan mentakhrij kitab-kitab hadis yang jumlah halamannya besar untuk menyembunyikan hadis-hadis yang tidak mereka sukai; menghilangkan hadis-hadis tertentu yang tidak sesuai dengan faham mereka; memotong-motong dan mencuplik pendapat ulama untuk kemudian diselewengkan maksud dan tujuannya; mengarang-ngarang hadits dan pendapat ulama; memerintahkan ulama mereka untuk menulis suatu buku, lalu mengatasnamakan buku itu dengan nama orang lain; tindakan intimidasi dan provokasi; membeli manuskrip; menyogok penerbit; sampai kepada pencurian buku-buku induk dan manuskrip untuk dihilangkan sebagian isinya, atau dimusnahkan semuanya.”
Masyaallah, benarkah kita akan terperanjat setelah membaca buku ini?!
Saya semakin penasaran untuk segera menelaah buku ini, karena ingin tahu jawabannya.
Kemudian, kalau kita perhatikan di bagian atas sampul depan maka akan terpampang dua nama orang besar, yaitu bapak Prof. DR. KH. Said Agil Siraj, MA. (Ketua Umum Pengurus Besar NU) dan Prof. DR. Azyumardi Azra, MA. M.PHIL (Direktur Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)Masyaallah, dua nama tokoh nasional yang cukup terkenal dan berkedudukan. Namun apakah sudah menjamin bahwa buku yang diberi pengantar oleh tokoh-tokoh besar ini isinya bagus, benar dan bermutu?!
Insyaallah sebentar lagi kita akan mengetahui jawabannya.
Lalu di sampul belakang terpampang 5 foto tokoh yang dimintai mendukung buku tersebut. Coba perhatikan:
2 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Salah seorang mereka, nomor ke-3 (yaitu Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani M.A.)  menulis: Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.”
Benarkah demikian? Apakah kita juga merinding setelah membacanya? Mari kita buktikan bersama sebentar lagi.
Sementara KH. Wahfiudin, M.B.A (no. 5)  menulis: “Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan, memuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah.”
Benarkah buku ini dahsyat? Benarkah kita akan tercengang dibuatnya? Benarkah kupasannya akurat dan ilmiah?
Saya yakin pembaca semakin tidak sabar untuk membuktikannya.
Dalam membuktikan kali ini kita cukup melihat mutu terjemahan dan kesimpulannya. Sebab hal itu cukup untuk mengenali tingkat intelektualitas, keilmuan, ketakwaan dan kejujuran seseorang. Jika terjemahan salah dan kesimpulan menyesatkan karena berbalik menjadi menfitnah maka hal itu menjadi aurat mughallazhah alias kemaluan besar yang seharusnya ditutupi, bukan malah diumbar dan menelanjangi diri sendiri di hadapan publik.
Sekarang saatnya kita mulai, dengan memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saya katakan:
Bismillahirrahmanirrahim
Aurat pertama:
Di halaman 49-50 mereka menulis:
Perintah untuk membakar Buku-Buku dan memalsukannya
Berikut Scan buku tersebut:
 3 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
4 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
ولا نأمر باتلاف شيء من المؤلفات أصلاً، إلاّ ما اشتمل على ما يوقع الناس في الشرك، كروض الرياحين، أو يحصلبسببه خلل في العقائد، كعلم المنطق، فإنه قد حرمه جمع من العلماء، على أنا لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه ؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله،وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك

Perhatikan terjemahannya dalam buku ini:
14 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
15 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Bandingkan dengan terjemahan kami:
“Dan kami tidak memerintahkan untuk menghilangkan (memusnahkan) sesuatu pun dari kitab-kitab itu sama sekali, kecuali yang berisi sesuatu yang menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan, seperti Raudh al-Rayyahiin, atau apa yang bisa menyebabkan kerusakan dalam akidah, seperti ilmu manthiq, karena ia telah diharamkan oleh sejumlah ulama, itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu, dan seperti Dalail al-Khairat, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. Dan apa yang terjadi secara kebetulan bagi sebagian orang baduwi dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya, padahal ia dan yang lainnya sudah dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari dan memeriksa, atau juga membakar-bakar.” Wallahu a’lam.

Perhatikan aurat mereka:
  1. Dalam judul bahasan mereka tulis: “dan memalsukannya”.
 5 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Begitu pula dalam keterangan di bawahnya. Maka, kita yang berakal ini perlu bertanya, mana ucapan Syaikh Muhammad yang menyuruh pengikutnya untuk memalsukan buku-buku para ulama?!!
Kalau demikian, siapa yang melakukan kebohongan publik?!
Saya sangat khawatir banyak pembaca berkhusnuzhan kepada para tokoh yang begitu meyakinkan mendukung buku ini sehingga menelan begitu saja apa yang ada di dalamnya meskipun itu dusta. Astaghfirullah. Semoga Allah mengampuni mereka dan melindungi umat Islam dari orang-orang alim yang membawa fitnah.
  1. Kalimat “ajaran yang membuat manusia menjadi musyrik” diberi catatan kaki sebagai berikut: musyrik versi salafi wahhabi adalah orang-orang yang melakukan istighatsah, tawassul, tabarruk, peringatan maulid nabi, dzikir bersama, ziarah ke makam orang shaleh, dan tidak sependapat dengan mereka. Karena menurut mereka, umat Islam yang tidak mengkafirkan orang-orang yang mereka (salafi wahabi) kafirkan maka dia juga adalah kafir, sebagaimana hal itu dinyatakan dalam buku mereka; Muhammd ibn Abdil Wahhab dkk: ad-Durar as-Saniyyah, op.cit, pada jilid 9 h. 289.
 16 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
  • Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah ulama yang mengerti mana tauhid dan mana syirik sehingga Sayyid Muhammad Alwi al-Malikipun menggelarinya dengan sebutan “Imam at-tauhid wa Ra`su al-Muwahhidin” (pemimpin tauhid dan kepala orang ahli tauhid) dalam kitabnya Mafahim Yajib an-Tushahhah[1] halaman 202:
 6 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
7 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
“Inilah dia Imam Tauhid dan kepala ahli tauhid mengatakan ucapannya yang benar dengan hikmahnya yang lurus yang karenanya dakwahnya tersebar di tengah-tengah manusia dan thariqatnya kesohor di kalangan orang khusus maupun orang kebanyakan.”
Nah, siapakah yang yang benar di antara keduanya? Jika Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki benar dalam pernyataannya bahwa Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab adalah imam tauhid dan kepala ahli tauhid berarti Syaikh Idahram dan pendukung bukunya adalah “jahil“. Ataukah sebaliknya…?!
Lalu bandingkan dengan gelar yang diberikan oleh Syaikh Idahram dalam buku pertamanya, halaman 31, ia menjuluki Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab sebagai “ustadz kampung”!! Maka siapakah yang alim dan siapakah yang jahil? Syaikh Idahram yang masih majhul itu, yang menerjemah salah-salah sampai terbelok 180 derajat? Ataukah Sayyid Muhammad al-Maliki?!!Saya serahkan kepada pembaca untuk menyimpulkan.
  • Maka dari itu, Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab tidak mengkafirkantawassul.
Perhatikan ucapan Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang dikutip oleh Sayyid al-Maliki, yang di sana Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab mengikuti jumhur bahwa tawassul dengan orang shalih itu makruh dan ini termasuk masalah ijtihadiyyah: berikut scan buku Sayyid Muhammad Alwi, 149:
8 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Begitu pula beliau tidak mengkafirkan dzikir bersama, peringatan maulid nabi, ziarah ke makam orang shaleh apalagi orang yang tidak sependapat dengan mereka. Lalu di manakah mereka dianggap kafir oleh beliau? Di manakah beliau mengkafirkan itu semua?!! Kapan dan dimana….?
Nah, siapakah yang memelintir ucapan, menfitnah, memalsukan maksud dan menyesatkan pembaca?!!
Dengan demikian, maka apakah buku ini bisa menjadi sandaran utama umat dalam mencari kebenaran dan petunjuk Tuhan??! Kata dalam bahasa Arab “Haihaata haihat!!! Yang ada malah sebaliknya, umat Islam harus diperingatkan dari buku yang berisi fitnah seperti ini.
Dahsyat bukan?! Apakah Anda percaya?!! Tetapi inilah kenyataan buku Syaikh Idahram-2 ini.
  • Kata Sayyid Muhammd Alwi al-Maliki: Syaikh Muhammd ibn Abdul Wahhab yang menjadi imamut tauhid wa ra’sul muwahhidin itu sangat mengingkari orang yang menuduh dan menfitnah beliau telah mengkafirkan orang yang bertawassul dengan orang shalih.  Sayyid Muhammad al-Maliki berkata: (scan hal 150)
81 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
“Syaikh Muhammd ibn Abdul Wahhab berlepas diri dari orang yang mengkafirkan orang yang bertawassul.”
Telah datang dari Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab dalam suratnya yang ditujukan kepada penduduk Qashim, protesnya/ keingkarannya yang keras terhadap orang yang menisbatkan kepada beliau pengkafiran terhadap orang yang bertawassul dengan orang shalih. Beliau berkata:
“Sesungguhnya Sulaiman ibn Suhaim telah berdusta atas nama saya hal-hal yang tidak pernah aku ucapkan, bahkan kebanyakan tidak pernah terlintas di benak saya, diantaranya: -ia mengatakan- saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul dengan orang shalih, dan katanya saya mengkafirkan al-Bushiri karena ucapannya “Wahai manusia yang paling mulia’ dan katanya aku membakar buku Dalail Khairat.
Jawaban saya tentang masalah-masalah ini adalah saya katakan: “Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang agung.”
Pembaca sekalian, kedustaan yang dilakukan oleh Sulaiman ibn Suhaim kini dilakukan oleh Syaikh Idahram dan semua orang yang mendukung bukunya!!!
Tidakkah Anda saksikan, siapakah yang berdusta di depan publik?!!
Apakah Syekh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang berjuluk imam at-tauhid dan pemimpin ahli tauhid, ataukah penulis buku yang tidak dikenal jati dirinya ini?!
Saya serahkan kepada pembaca untuk menilai dengan adil dan jujur.
Waspadalah, jangan sampai Anda disimpangkan oleh hawa nafsu!!
Satu lagi surat Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab yang penting kata Sayyid adalah di hal 84, silakan Anda merujuk ke kitab aslinya.
Kemudian kalimat Syaikh Muhammad ibn Abdil Wahhab:

على أنا لا نفحص عن مثل ذلك، وكالدلائل، إلاّ إن تظاهر به صاحبه معانداً، أتلف عليه ؛ وما اتفق لبعض البدو، في اتلاف بعض كتب أهل الطائف، إنما صدر منه لجهله، وقد زجر هو، وغيره عن مثل ذلك
diartikan :
9 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
 -          Bandingkan dengan terjemahan kami:
“Itupun kami tidak memeriksa (mencari-cari) tentang hal itu, dan sepertiDalail al-Khairat, kecuali jika pemiliknya menampakkannya sebagai orang yang menentang, maka dihilangkan atasnya. Dan apa yang terjadi secara kebetulan bagi sebagian orang Baduwi dalam memusnahkan sebagian kitab penduduk Thaif, maka sesungguhnya hal itu dilakukan karena kebodohannya,padahal ia dan yang lainnya sudah dilarang dari hal tersebut (maksudnya dari mencari-cari, memeriksa dan membakar-bakar kitab).”Wallahu a’lam

Wahai pembaca yang dimuliakan Allah dengan diberi akal, ilmu dan iman!
Siapakah yang memalsukan berita? Syekh Muhammad ibn Abdul Wahhab adalah orang yang melarang membakar kitab tetapi diberitakan oleh orang yang menamakan dirinya sebagai Syaikh Idahram bahwa beliau memerintah dan bersepakat dengan orang Baduwi untuk membakar buku orang Thaif?!!
Sungguh kebohongan besar di depan publik di siang bolong. Padahal judul buku mereka tidak sungkan-sungkan berbunyi:
10 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
 Saya khawatir ini termasuk dalam ujaran: “maling berteriak maling”.
  • Setelah Anda tahu kesalahan penulis buku ini dalam menerjemah, maka kesimpulannya pun juga pasti salah. Perhatikan  kesimpulan penulis: (scan buku halaman 51)
11 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Pembaca yang kami muliakan, dan yang dimuliakan oleh Allah dengan hati nurani, kecerdasan dan iman. Sebenarnya saya merinding membaca terjemahan dan kesimpulan Syaikh idahram. Bagaimana ia membalik fakta 180 derajat? Kalau begitu siapa yang tangannya sangat terampil, bisa memberi informasi bahkan tuduhan keji secara salah dan terbalik-balik?!
Melihat cara kutipan yang serampangan, kami jadi meragukan ketajaman dan kebenaran tuduhan-tuduhan yang dialamatkan kepada salafi wahabi. Misalnya, dalam kitab ad-Durar as-Saniyyah sebelum paragraph yang dikutip oleh penulis, Syekh mengatakan bahwa beliau mengikuti akidah salaf shalih, bukan akidah khalaf, lalu dalam madzhab fikih ikut madzhab Imam Ahmad, lalu beliau menegaskan bahwa beliau menggunakan semua kitab para ulama.
Dan setelah kutipan itu, Syekh mengingkari tuduh-tuduhan keji tersebut. Beliau berkata:
وأما ما يكذب علينا : سترا للحق، وتلبيسا على الخلق، بأنا نفسر القرآن برأينا، ونأخذ من الحديث ما وافق فهمنا…. …………… وأنا لا نعتمد على أقوال العلماء، ونتلف مؤلفات أهل المذاهب، لكون فيها الحق والباطل، وأنا مجسمة، وأنا نكفر الناس على الإطلاق أهل زماننا، ومن بعد الستمائة، إلا من هو على ما نحن عليه .

جوابنا في كل مسألة من ذلك، سبحانك هذا بهتان عظيم ؛ فمن روى عنا شيئا من ذلك، أو نسبه إلينا، فقد كذب علينا وافترى .
“Adapun apa yang didustakan atas nama kami; demi untuk menutupi kebenaran, dan mengelabuhi manusia; katanya kami menafsiri al-Qur`an dengan pendapat kami, kami mengambil hadits yang sesuai dengan pemahaman kami…………… Dan kami tidak bersandar pada ucapan para ulama, kami melenyapkan kitab-kitab ahli madzhab karena berisi kebenaran dan kebatilan, kami mujassiim, kami  mengkafirkan manusia pada zaman kami secara mutlak, hingga setelah 600 tahun, kecuali orang-orang yang sesuai dengan apa yang ada pada kami.
Maka jawaban kami dari semua masalah itu adalah: “Maha Suci Allah, ini adalah kedustaan yang besar. Maka barangsiapa meriwayatkan sesuatu dari hal itu atau menisbatkannya kepada kami maka dia benar-benar telah berdusta dan mengada-ada.[2]
Jadi sekali lagi, secara meyakinkan dan terang-terangan Syaikh Idahram penulis buku
10 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
telah melakukan dusta dan bohong di depan publik, dan menuduh Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab yang tidak bersalah itu dengan tuduhan-tuduhan keji sebagai orang sesat, mengkafirkan umat Islam, membakar kitab dan mengajarkan pengikutnya untuk memalsukan kitab para ulama dan lain sebagainya!!!
Maka terbuktilah ucapan bapak Dr. KH. Rohimuddin Nawawi al-Bantani M.A. dalam testimoninya yang mengatakan: Saya merinding membaca buku ini, seakan tidak percaya, tapi itulah kenyataannya.”Karena saya benar-benar merinding jika mutu terjemahan buku ini seperti ini. Menyesatkan pembaca.
Dan terbukti pula testimoni  Bapak KH. Wahfiudin, M.B.A.  yang berbunyi:“Buku ini sangat dahsyat dan mencengangkan”Tetapi dahsyatnya bukan karenmemuat informasi-informasi penting dengan kupasan yang akurat dan ilmiah, melainkan karena “kesalahan terjemah yang fatal dan fitnah serta kedustaan.”
Yang tidak terbukti adalah ucapan Ustadz H. Muhammad Arifin Ilham saat mengatakan: “Untuk membentengi mereka dengan pemahaman yang lurus”sebagaimana pernyataannya berikut ini:
 12 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
Sebab pemahaman penulis buku, terjemahan dan kesimpulannya rusak sebagaimana yang Anda ikuti bersama dalam makalah ini –dan makalah-makalah berikutnya insyaallah-. Jika tidak, maka apakah menuduh orang, menfitnah, dan memusuhi ulama secara salah, apakah itu pemahaman yang lurus? Apakah itu cerminan islam yang lembut, santun dan penuh kasih sayang? Jelas tidak, tetapi sangat dikhawatirkan justru perbuatan seperti yang dilakukan oleh penulis buku ini mendapat ancaman keras dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ يُؤْذُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَعَنَهُمُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَأَعَدَّ لَهُمْ عَذَابًا مُهِينًا (57) وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (58)
“Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya[3]. Allah akan melaknatinya di dunia dan di akhirat, dan menyediakan baginya siksa yang menghinakan. dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, Maka Sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” (QS. Al-Ahzab, 57-58)
Oleh karena itu, adanya dua nama tokoh nasional di cover depan
13 Serial Aurat Buku Syaikh Idahram 2 (bag. 1)
dan 5 tokoh (termasuk Prof. DR. Azyumardi) di kover belakang bukan memperindah ataupun menguatkan buku ini, tetapi justru sebaliknya, buku ini mencoreng dan merendahkan martabat mereka. Andaisaja beliau-beliau itu tidak begitu saja memberikan dukungan, kata pengantar dan testimoni pada buku ini. Namun apa dikata, itu sudah menjadi kenyataan…!! Wallahu a’lam bishshawab.
Semoga tanggapan ini bisa membantu menyadarkan orang-orang yang lalai. Aamiin.
Nantikan bagain kedua dari serial Aurat Buku Syaikh Idahram-2. [*]

[1] Kitab Sayyid Muhammad ibn Alwiy al-Maliki ini sudah dikritisi kesalahan-kesalahannya oleh Syaikh Shalih ibn Abdul Aziz Al-Syaikh dalam buku yang berjudul Hadzihi Mafahimuna, yang dicetak dalam edisi Indonesia  dengan judul Meluruskan Pemahaman, terbitan Nashirul Haq.
[2] http://islamport.com/d/2/fqh/1/24/178.html
[3] Menyakiti Allah dan rasul-rasulNya, Yaitu melakukan perbuatan- perbuatan yang tidak di ridhai Allah dan tidak dibenarkan Rasul- nya; seperti kufur, mendustakan kenabian dan sebagainya.

Menurut saya apapun buku yang di munculkan ketengah publik tidak perlu kita khawatirkan, dan orang-orang awam tidak perlu ditakut-takuti supaya jangan membaca buku tersebut. Justru kebenaran itu akan terbuka dan kebatilan akan dibongkar dengan cara kita berani untuk membaca. Apalagi bagi para penunut ilmu, justru itu akan menjadi bahan masukan buat kita untuk menambah wawasan.

Pro dan kontra terhadap munculnya buku di atas adalah wajar, namun yang perlu menjadi cacatan ketika kita membaca dan menanggapi sebuah buku adalah sikap obyektif, jujur dan teliti, boleh kita mengkritisi namun kita juga harus mengakui fakta kalau memang apa yang di ungkapkan buku tersebut merupakan fakta-fakta ilmiah yang tak terbantahkan. Dari fakta-fakta yang dikemukakan buku di atas tiga kitab yang sudah saya buktikan langsung tentang pemalsuannya yaitu Tafsir Sowi, Al Adzkar dan Nihayatu Qoulil Mufid fi 'Ilmi At Tajiw.


Sebenarnya kasus banyaknya terungkap distorsi, manipulasi karya ulama-lama klasik sudah banyak ditemukan oleh para ulama dan Ilmuan, namun mereka belum secara khusus dipublikasikan dalam sebuah buku. Sebagian ada yang mengungkapkannya di dalam artikel, buletin dan media2 yang masih terbatas. Kamipun ketika masih menjadi mahasiswa PKU sudah mendiskusikan banyaknya kasus-kasus pemalsuan yang dilakukan terhadap[ karya para ulama kalsik.


Tanggapan dari Pihak salafi tentang indikasi bahwa Syaikh Idahram mengusung faham Rofidhoh atau Syiah merupakan ketakuan yang berlebihan dan permusuhan yang ditanpakkan terhadap kelompok syiah, sebagaimana kita tahu bahwa kelompok Salafi sangat memusuhi Syiah. Hal itu merupakan warisan sejarah dan akibat dari konflik politik yang terjadi di Antara ummat Islam. namun bagi Ummat yang bijak Dendam sejarah dan konfilk kepentingan antara Saudi dan Iran mestinya tidak perlu diwariskan kepada kita. kita mesti memiliki manhaj yang murni dan adil serta berpandangan kedepan terhadap nasib Ummat Islam dalam menghadapi tantangan global tidak hanya dibodohkan dengan masalah-masalah intern yang menguras energi, waktu dan kekuatan Ummat. 


Terbetik dalam pikiran betapa jahatnya mereka. kejahatan dan kebohongan mereka melebihi apa yang dilakukan oleh kaum Orientalis. Jika orientalis yang melakukan penelitian Islam masih ada yang bersikap obyektif. maka justru Ini Ummat Islam sendiri yang melakukan kejahatan yang luar biasa, bukan hanya kejahatan intelektual, kedustaan atas nama ulama sebagai rujukan ajaran Islam yang murni, tetapi sudah merupakan kebohongan masiv yang dilakukan secara terorganisir. orang-orang yang semuanya terlibat, dari penerbitnya, pentahqiqnya, Ulamanya dan Penguasa yang mendukung harus bertanggungjawab terhadap apa yang sudah dilakukan terhapat Ummat Islam, mereka sebenarnya tidak beda perilakunya dengan orang-orang Yahudi yang di dalm Al Qur'an dijelaskan sebagai orang-orang yang banyak melakukan Tahrif dan mereka mengatakan bahwa itu merupakan kebenaran. Na'udzubillahi mindzalik. kalau menurut saya semua unsur yang terlibat harus diberi teguran semuanya oleh Ummat Islam dan kalau perlu direformasi total. 

Setiap buku pasti memiliki kekurangan dan kelebihan dan manfaat, di antara manfaat buku diatas kita akan lebih teliti, selektif dan waspada dalam memilih bahan bacaan. by Alip


Poskan Komentar