Jumat, 02 September 2016

KEUTAMAAN 10 HARI DZULHIJJAH


Alhamdulillah kita sudah berada di akhir bulan Dzulqo’dah dan besok sudah memasuki bulan Dzulhijjah, mudah-mudhan kesempatan umur yang diberikan Allah kepada kita bisa dimanfaatkan untuk lebih bersyukur dan meningkatkan amal kebaikan kita.

Keutamaan 10 hari Bulan Dzulhijjah

Sepuluh hari dari awal bulan dzulhijah sampai hari ke-10 adalah hari-hari dan malam-malam yang memiliki kemulyaan dan keutamaan, didalamnya amal ibadah dilipatgandakan pahalanya dan dianjurkan untuk sungguh-sungguh beribadah dengan meningkatkan dan menambah berbagai amal kebajikan. Karena keagungannya maka Allah bersumpah dengannya,  Allah SWT berfriman :
وَالْفَجْرِo وَلَيَالٍ عَشْرٍ
“Demi fajar, dan malam yang sepuluh, ( Al Fajr ; 1-2). mayoritas ulama menafsirkan ayat ini dengan 10 hari Dzulhijjah. hari-hari ini adalah hari-hari yang paling utama sepanjang tahun berdasarkan sabda Nabi SAW:


وعن ابن عباس رضي الله عنهما ، قَالَ : قَالَ رسول الله - صلى الله عليه وسلم - : مَا مِنْ أيَّامٍ ، العَمَلُ الصَّالِحُ فِيهَا أحَبُّ إِلَى اللهِ مِنْ هذِهِ الأَيَّام  )يعني أيام العشر (. قالوا : يَا رسولَ اللهِ ، وَلاَ الجِهَادُ في سَبيلِ اللهِ ؟ قَالَ : (( وَلاَ الجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ ، فَلَمْ يَرْجِعْ مِنْ ذَلِكَ بِشَيءٍ )) رواه البخاري ) أخرجه : البخاري /24(969)
Dari Ibnu Abbas Radiallohuanhuma, beliau berkata : Rasulullah SAW bersabda: "Tiadalah hari-hari, di mana amal solih di dalamnya lebih dicintai Allah dari hari ini." Yaitu sepuluh hari Dzulhijjah. Mereka berkata : ya Rasulallah, Tidak pula jihad fisabilillah? Beliau bersabda: "Tidak pula jihad fisabilillah kecuali seorang laki-laki yang keluar dengan jiwa dan hartanya, dan ia tidak kembali dengan sesuatu pun darinya.” (kitab Riyadus Solihin karya  Imam An Nawawi, beliau mencantumkan hadis tersebut dalam bab keutamaan puasa dan ibadah lain pada 10 awal bulan dzulhijjah, HR Bukhari dalam kitab Sahih Bukhari dalam Kitab dua Hari Raya bab keutamaan beramal pada hari-hari Tsyriq no. 969/916)


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَال : مَا مِنْ أَيَّامٍ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ أَنْ يُتَعَبَّدَ لَهُ فِيهَا مِنْ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ، يَعْدِل صِيَامَ كُل يَوْمٍ مِنْهَا بِصِيَامِ سَنَةٍ ، وَقِيَامُ كُل لَيْلَةٍ مِنْهَا بِقِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ (أخرجه الترمذي ( 3 / 122 ) وقال : حديث حسن غريب .
“Dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi SAW beliau bersabda : “ Tidak ada hari-hari yang lebih dicintai Allah SWT yang didalamnya untuk beribadah dari pada 10 hari dzulhijjah, berpuasa satu hari didalamnya sebanding dengan puasa setahun dan shalat disetiap malamnya sebanding dengan shalat dimalam lailatul Qadar” (HR Turmudzi juz 3 halaman 122 beliau berkata hadis hasan ghorib).

Disunahkan berpuasa

Para ulama mengatakan diunahkan berpuasa pada 10 hari dzulhijjah, dari hari pertama sampai 9 kecuali hari kesepuluhnya karena itu adalah hari raya ‘Idul Adha yang disepakati keharammnya berdasarkan hadis-hadis diatas.

Dan dianjurkan pula puasa pada hari Arafah kecuali bagi orang yang sedang melaksanakan haji. Berdasarkan hadis.
 عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ) أخرجه مسلم(
”Kemudian beliau ditanya tentang puasa pada Arafah, maka beliau menjawab: "Puasa itu akan menghapus dosa-dosa satu tahun yang lalu dan yang akan datang." ."(Dikeluarkan oleh Imam Muslim, Shahih Muslim : Bab Sunnahnya puasa 3 hari pada setiap bulan, puasa Arafah, ‘Asyura dan Senen Kamis:1162)

Para ulama menjelaskan bahwa Allah akan menghapus dosa-dosa orang yang berpuasa Arafah selama 2 tahun, sebagian ulama menjelaskan akan diampuni dosa 1 tahun yang lewat dan dijaga dari dosa selama 1 tahun yang akan datang. Dan dosa yang diampuni menurut mayoritas ulama adalah dosa-dosa kecil dan menurut sebagian ulama adalah semua dosa baik yang besar atau yang kecil (Al Mausu’ah Al Fiqhiyyah Al kuwaitiyyah,  Juz 30 halaman 119)

KH. Ahmad Zakaria salah satu ulama dari Persis dalam kitabnya al Hidayah Fi Masailil Fiqhiyyah menjelaskan bahwa puasa Arafah hanya satu hari yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Adapun tanggal 8 dzulhijjah apakah disunahkan juga untuk berpuasa sebagaimana yang menjadi keyakinan sebagaian masyarakat? Sampai saat ini Kami belum menemukan dalilnya” ?. Namun jika melihat penjelasan diatas dan dalilnya tentang keutamaan 10 hari dzulhijjah maka tanggal 8 itu termasuk memiliki keutaman termasuk puasa, hal ini ditegaskan Imam An Nawawi didalam Riyadlus Solihin beliau mencantumkan hadis tersebut dalam bab keutamaan puasa dan ibadah lain pada 10 awal bulan dzulhijjah, cetakan Darul Ilmi halaman 496-497.

Hadis-Hadis Yang Bertentangan

Dalam kesempatan ini saya juga akan menampilkan hadis-hadis yang lain yang secara dzahir saling bertentangan dan bagaimana para ulama menghadapinya.

Imam Muslim meriwayatkan dalam Kitab I’tikaf Bab Puasa 10 hari dibulan Dzulhijjah.
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا فِي الْعَشْرِ قَطُّ
“Dari 'Aisyah, ia berkata; "Aku sama sekali belum pernah melihat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berpuasa pada sepuluh hari (di awal Dzulhijjah)."(HR Muslim no. 2010,2011)

Imam Abu Daud juga meriwayatkan hadis yang semakna dalam bab Berbuka di 10 hari (bulan Dzulhijjah) dan Imam At Turmudzi meriwayatkan yang semakna dalam Kitab As Soum bab Hadis Puasa 10 dzulhijjah.

Untuk memahami dan bisa mengambil kesimpulan hukum dari hadis-hadis di atas maka kita merujuk para ulama, Imam An Nawawi menjelaskan :

 ( باب صوم عشر ذى الحجة [ 1176 ] فيه قول عائشة ( ما رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم صائما في العشر قط ) وفي رواية لم يصم العشر قال العلماء هذا الحديث مما يوهم كراهة صوم العشر والمراد بالعشر هنا الأيام التسعة من أول ذى الحجة قالوا وهذا مما يتأول فليس في صوم هذه التسعة كراهة بل هي مستحبة استحبابا شديدا لاسيما التاسع منها وهو يوم عرفة وقد سبقت الأحاديث في فضله .وثبت في صحيح البخارى أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال ما من أيام العمل الصالح فيها أفضل منه في هذه يعنى العشر الأوائل من ذى الحجة فيتأول قولها لم يصم العشر أنه لم يصمه ) لعارض مرض أو سفر أو غيرهما أو أنها لم تره صائما فيه ولا يلزم من ذلك عدم صيامه في نفس الأمر ويدل على هذا التأويل حديث هنيدة بن خالد عن امرأته عن بعض أزواج النبى صلى الله عليه و سلم قالت كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصوم تسع ذى الحجة ويوم عاشوراء وثلاثة أيام من كل شهر الاثنين من الشهر والخميس ورواه أبو داود وهذا لفظه وأحمد والنسائى وفي روايتهما وخميسين والله أعلم .) شرح النووي على مسلم (8/ 71)

“Bab Puasa 10 awal Dzulhijjah : di dalam hadis (riwayat Muslim)  ada pekataan “Aisyah (aku tidak pernah melihat Rasulallah SAW berpuasa pada 10 awal Dzulhjjah sama sekali) dalam satu riwayat “beliau tidak berpuasa pada 10 awal Dzulhijjah”. Para ulama berkata : Hadis ini yang di duga sebagai dalil makruhnya berpuasa 10 awal DZulhijjah. Yang dimaksud dengan 10 disisni adalah Sembilan hari dari awal Dzulhijjah. Mereka berkata : pendapat ini merupakan hasil penakwilan, padahal tidak ada hukum makruh bagi berpuasa 9 hari ini bahkan hal ini dianjurkan dengan anjuran yang sangat kuat, apalagi pada hari kesembilannya, yaitu hari Arafah, dan sudah disebutkan hadis-hadis tentang keutamaanya.”
Dicantumkan di dalam Sahih Al Bukhari bahwa Rasulullah SAW bersabda : tidak ada hari yang amal salih di dalamnya lebih utama dari pada amal itu, yaitu pada hari 10 awal Dzulhijjah, maka perkataan Aisyah : (Rasulullah SAW tidak berpuasa pada 10 awal, bahwa beliau tidak berpuasa pada hari itu.) ditakwilkan dengan pengertian karena adanya halangan, sakit, perjalanan atau yang lainnya. Atau Aisyah pada waktu itu tidak melihat beliau berpuasa. Dan oleh karenanya tidak wajib meniadakan berpuasa dalam kondisi adanya perintah. Dan memberi petunjuk akan takwil ini adalah hadis Hunaidah Bin Khalid dari istrinya dari sebagian istri Rasulullah SAW : beliau berkata : Rasulullah SAW berpuasa pada tanggal 9 Dzulhijjah, Hari Asyura (10 Muharram), 3 hari dari setiap bulan, hari Senin, Kamis. Diriwayatkan oleh Abu Daud dan ini Lafadznya, Ahmad dan An Nasai, dan di dalam riwayat keduanya ada khumisain. Walohu a’lam. (Syarah Sahih Muslim, Imam An Nawawi Juz 8 Halaman 71)

Penjelasan Imam An Nawawi Juga dikutip oleh Al ‘Adzim Abadi dalam Aunul Ma’bud dan Juga Dikutip oleh Al Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi. Kemudian Imam Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan hadis Bukhari sebagaimana dikutip oleh al Mubarakfuri.

وَقَالَ الْحَافِظُ فِي الْفَتْحِ فِي شَرْحِ حَدِيثِ الْبُخَارِيِّ الَّذِي ذَكَرَهُ النَّوَوِيُّ مَا لَفْظُهُ : وَاسْتُدِلَّ بِهِ عَلَى فَضْلِ صِيَامِ عَشْرِ ذِي الْحِجَّةِ ؛ لِانْدِرَاجِ الصَّوْمِ فِي الْعَمَلِ ، قَالَ : وَلَا يَرِدُ عَلَى ذَلِكَ مَا رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ : مَا رَأَيْت رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَائِمًا الْعَشْرَ قَطُّ ؛ لِاحْتِمَالِ أَنْ يَكُونَ ذَلِكَ لِكَوْنِهِ كَانَ يَتْرُكُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَهُ خَشْيَةَ أَنْ يُفْرَضَ عَلَى أُمَّتِهِ . كَمَا رَوَاهُ الصَّحِيحَانِ مِنْ حَدِيثِ عَائِشَةَ أَيْضًا اِنْتَهَى( تحفة الأحوذي (2/ 297))

“ Al Hafidz berkata di dalam Al fath (Fatul bari) dalam mensyarah hadis Bukhari yang disebutkan oleh An Nawawi lafadznya : hadis ini dijadikan dalil atas keutamaan puasa 10 awal Dzulhijjah, karena termasuknya puasa di dalam amal. Beliau berkata : dan keutamaan itu tidak datang (ditolak) oleh apa yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan yang lain dari Aisyah, beliau bekata : “ aku tidak melihat Rasulullah SAW berpuasa 10 hari sama sekali”, kemungkinan hal itu karena Rasulullah SAW meningalkan amal itu padahal beliau suka akan pengamalannya, khawatir menjadi wajib atas ummat beliau. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim dari Aisyah Juga. Selesai. (Tuhfatul Ahwadzi Syarah Sunan Turmudzi juz 2 halaman 297). Wallohu A’lam bisowab,

Al Bayan Edisi No. 0011 Bogor, 30 Dzulqo’dah 1347 H/ 2 September 2016

Oleh : Alip
Poskan Komentar